Pages

Senin, 09 Mei 2016

Kesenian Sintren

       
     Banyak sekali kesenian tradisional di Indramayu yang unik dan tidak dijumpai di daerah lain. Setelah tari topeng yang mulai bangkit dari mati suri. kini kesenian lain yang hampir punah mulai dibangkitkan kembali yaitu kesenian Sintren.

      Sintren adalah salah satu kesenian rakyat pesisir, tepatnya di sekitar jalur pantura (Pantai Utara) antara Indramayu dan Cirebon. Kesenian ini konon mulai dikenal pada awal tahun 1940-an, nama sintren sendiri tidak jelas berasal dari kata apa, namun menurut berbagai sumber asal kata "Sintren" merupakan gabungan dua suku kata "Si" dan "tren". Si dalam bahasa Jawa berarti "ia" atau "dia" dan "tren" berarti "tri" atau panggilan dari kata "putri" (Sugiarto, 1989:15). Sehingga Sintren adalah "Si putri" yang menjadi pemeran utama dalam kesenian tradisional Sintren.

      Asal mula lahirnya sintren sendiri adalah sebenarnya sebagai permainan dikala petang kaum ibu dan putra-putrinya yang tengah menunggu suami/ayah mereka pulang sebagai nelayan mencari ikan di laut. Permainan sintren itu terus dilakukan hampir tiap sore dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka, maka lama-kelamaan Sintren berubah menjadi sebuah permainan sakral menunggu para nelayan pulang. Namun pada perkembangannya kesenian ini kemudian dijadikan sebagai objek mencari nafkah untuk oleh sebagian masyarakat waktu yang tidak pergi melaut untuk menjadi seniman. Mereka berkeliling kampung mementaskan kesenian ini dengan mengandalkan saweran dari para penonton.
Bentuk Pakem Pertunjukan tari Sintren:
  1. Prapertunjukan, adalah saat dimulainya tabuhan gamelan sebagai tanda akan dimulainya pertunjukan kesenian sintren dan dimaksudkan untuk mengumpulkan massa atau penonton.
  2. Dupan, yaitu acara berdoa bersama-sama diiringi membakar kemenyan dengan tujuan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selama pertunjukan terhindar dari mara bahaya.
  3. Membentuk (menjadikan) sintren.
  4. Tahapan menjadikan sintren dilakukan oleh Pawang yang dengan membawa calon penari sintren bersama dengan 4 (empat) orang pemain. Dayang sebagai lambang bidadari (Jawa: Widodari patang puluh) sebagai cantriknya Sintren. Kemudian Sintren didudukkan oleh Pawang dalam keadaan berpakain biasa dan didampingi para dayang/cantrik. Pawang segera menjadikan penari sintren secara bertahap, melalui tiga tahapan. Kesenian sintren disajikan secara komunikatif antara seniman dan seniwati dengan penonton menyatu dalam satu arena pertunjukan. 

       Kesenian Sintren bukan hanya sekedar permainan permainan dikala petang untuk menunggu para nelayan. Sintren kini menjadi kesenian yang ini digawangi oleh beberapa awak yang terdiri dari para juru kawih/sinden yang diiringi dengan beberapa gamelan seperti buyung sejenis gentong yang terbuat dari tanah liat sebagai alat musik pukul, rebana, dan waditra lainya seperti, kendang, gong, dan kecrek dan tentu saja pemain sintren itu sendiri. Sebagai permulaan dari pertunjukan Sintren, para juru kawih memulai dengan lagu-lagu yang dimaksudkan untuk mengundang para penonton. Syairnya lagunya seperti ini menggunakan bahasa Indramayu :
Tambak tambak pawon
Isie dandang kukusan
Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul.

artinya : Tambak-tambak dapur
Isinya dandang kukusan
Kalau ada kebul-kebul yang nonton pada kumpul

      Syair tersebut dilantunkan secara berulang-ulang sampai penonton benar-benar berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan Sintren. Setelah para penonton sudah banyak, juru kawih mulai melantunkan syair lagu berikut yang menjadi ciri khas kesenian Sintren:
Turun sintrén, sintréné widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembangé si Jaya Indra
Widadari temurunan
Kang manjing ning awak ira
Turun-turun sintrén
Sintrené widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembangé si Jaya Indra
Widadari temurunan
Kembang katés gandul
Pinggiré kembang kenanga
Kembang katés gandul
Pinggiré kembang kenanga
Arep ngalor arep ngidul
Wis mana gagéya lunga
Kembang kenanga
Pinggiré kembang melati
Kembang kenanga
Pinggiré kembang melati
Wis mana gagéya lunga
Aja gawé lara ati
Kembang jaé laos
Lempuyang kembangé kuning
Kembang jaé laos
Lempuyang kembangé kuning
Ari balik gagé elos
Sukiki menéya maning
Kembang kilaras
Ditandur tengaé alas
Paman-bibi aja maras
Dalang sintrén jaluk waras

       Di tengah-tengah juru kawih melantunkan syair lagu diatas, muncullah Sintren yang masih muda belia. Yang konon haruslah seorang gadis, karena kalau Sintren dimainkan oleh wanita yang sudah bersuami, maka pertunjukan dianggap kurang pas. Kemudian sintren diikat dengan tali tambang mulai leher hingga kaki, sehingga secara logika, tidak mungkin Sintren dapat melepaskan ikatan tersebut dalam waktu cepat. Lalu Sintren dimasukan ke dalam sebuah carangan (kurungan) yang ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Gamelan terus menggema, dua orang yang disebut sebagai pawang tak henti-hentinya membaca doa dengan asap kemenyan mengepul. Juru kawih terus berulang-ulang bernyanyi:

Gulunggulung kasa
Ana sintren masih turu
Wong nontone buru-buru
Ana sintren masih baru

        Yang artinya menggambarkan kondisi sintren dalam kurungan yang masih dalam keadaan tidur atau tidak sadar. Namun begitu kurungan dibuka, anehnya sang sintren telah berganti busana lengkap dengan kaca mata hitam. 

        Penari sintren sendiri lebih mirip orang yang ditinggalkan rohnya karena walaupun menari tetapi dalam keadaan tidak sadar. Dan disinilah uniknya kesenian ini. Ketika sang sintren menari, para penonton akan melemparkan uang logam atau sarung ke tubuh sang penari. Ketika uang logam itu mengenai tubuhnya, maka penari sintren pun akan pingsan dan baru akan bangun kembali setelah diberi mantra-mantra oleh sang pawang. Setelah itu penari sintren pun akan meneruskan kembali tariannya dan akan jatuh pingsan lagi ketika ada uang logam yang menenai tubuhnya Konon, ketika menari tersebut, penari sintren ini keraksukan roh. 

SUMBER:
  • http://www.tosupedia.com/2014/11/sintren-kesenian-sakral-dari-pesisir.html


Tradisi Ngarot






  • Sejarah Ngarot

Ngarot merupakan salah satu upacara adat yang terdapat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Upacara adat ini diselenggarakan pada saat menyongsong datangnya musim hujan yaitu tibanya musim tanam padi. Biasanya adat ini dilaksanakan pada pekan ke-3 Desember dan selalu dilaksanakan pada hari Rabu yaitu salah satu hari yang dianggap keramat dan hari baik oleh masyarakat Lelea untuk menanam padi. Ngarot berasal dari kata ”Nga – rot” (basa Sunda) yaitu istilah minum/ngaleueut. Adat ini melibatkan muda-mudi untuk turut serta dalam upacara tesebut. Uniknya hanya pemuda dan pemudi yang masih menjaga kesuciannya yang boleh ikut dalam acara ini karena jika pemuda atau pemudi sudah tidak suci akan terlihat sangat buruk di mata para peserta ngarot, dalam upacara ini para gadis desa peserta upacara dihias dengan mahkota bunga di kepalanya sebagai lambang kesucian.
       Upacara Ngarot dirintis oleh kuwu (kepala desa) pertama Lelea yang bernama Canggara Wirena, tahun 1686. Ngarot merupakan arena pesta minum-minum dan makan-makan di kantor desa sebelum para petani mengawali menggarap sawah. Tradisi itu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bercocok tanam dan sebagai penyemangat para petani untuk memulai bercocok tanam kembali serta sebagai pembelajaran dan regenerasi petani dari generasi tua terhadap generasi muda . Kuwu Canggara Wirena sengaja mengadakan pesta Ngarot sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada tetua kampung bernama Ki Buyut Kapol, yang telah rela memberikan sebidang sawah seluas 26.100 m2. Sawah tersebut digunakan para petani untuk berlatih cara mengolah padi yang baik. Demikian pula bagi kaum wanitanya, sawah digunakan sebagai tempat belajar bertani seperti tandur(menanam padi), ngarambet (menyiangi), panen padi, atau memberi konsumsi kepada para jejaka yang sedang berlatih mengolah sawah tersebut.
"Konon, jika seorang gadis tak perawan nekat mengikuti pawai arak-arakan Ngarot, maka bunga melati yang terselip di rambutnya, dengan sendirinya akan layu. Bila hal itu terjadi, maka si gadis akan mendapat aib karena sudah kehilangan kehormatan diri."
  • Acara Ngarot

       Peserta yang mengikuti upacara adat ngarot mengenakan pakaian yang khas. Remaja putri mengenakan busana kebaya berselendang yang dilengkapi aksesoris seperti kalung,gelang,cincin,bros,peniti emas,dan hiasan rambut. 
Uniknya hiasan rambut upacara ini menggunakan rangkaian bunga-bunga seperti bunga kenanga, melati,dan kertas. Sedangkan remaja putra mengenakan busana baju komboran dan celana gombrang berwarna hitam yang di lengkapi dengan ikat kepala.simbol-simbol pada upacara Ngarot mengandung pesan yaitu pada bunga kenanga pesannya agar para remaja putri tetap menjaga keperawanannya, bunga melati mengandung pesan agar para remaja putri menjaga kebersihan diri dan kesuciannya, bunga kertas mengandung pesan bahwa remaja putri harus tetap menjaga kecantikannya sebagai kembang desa. Simbol pada aksesoris kalung, gelang, dan cincin mengandung pesan bahwa petani harus bekerja dengan giat dalam menggarap sawah agar hasil panennya melimpah, sedangkan gelang akar bahar mengandung pesan bahwa seorang jajaka harus melindungi dan mengayomi keluarga dan masyarakat. Simbol pada pakaian kebaya, komboran yang bermakna pakaian khas memberikan pesan agar masyarakat harus tetap menjaga dan melestarikan pakaian adat petani, selendang mengandung pesan bahwa remaja putri harus menjaga penampilan fisik agar terlihat cantik dan menarik. Upacara adat ngarot dimulai jam 8.30 dengan berkumpulnya para peserta ngarot di halaman rumah Kepala desa Setelah para muda-mudi sudah di hiasi dandanan yang cantik dan gagah. kemudian muda-mudi ini di arak mengelilingi kampung dengan format kepala desa berada pada urutan paling depan disusul oleh remaja putri dan kemudian remaja putra pada barisan paling belakang. Arak-arakan ini di iringi dengan music khas daerah Indramayu. Setelah acara di arak mengelilingi kampung, semua peserta ngarot masuk di aula balai desa dan disambut oleh tari topeng indramayu. Setelah itu masuklah kepada acara inti pada upacara adat ngarot,susunan upacara inti tersebut antara lain:
1.  Pembukaan
2.  Pembacaan Sejarah Singkat Ngarot
3. Sambutan Kuwu Desa Lelea
4. Prosesi Penyerahan Peralatan Pertanian kepada Para Kasinoman. Prosesi ini terdiri dari :
a)      penyerahan benih padi oleh kepala desa(kuwu) kepada perwakilan remaja putra dan putri. maksud dari prosesi ini adalah sebagai simbol bahwa musim tanam padi sudah tiba dan petani mulai menggarap sawah.
b)      Penyerahan Kendi berisi air putih oleh Istri kepala desa kepada perwakilan remaja putra dan putri. Maksud dari prosesi ini adalah sebagai symbol bahwa air tersebut di percaya sebagai obat untuk pertanian agar pertanian menjadi subur.
c)      Penyerahan Cangkul  oleh Raksa Bumi(orang yang mengurus tentang tanah di sebuah desa) kepada perwakilan remaja putra dan putri. Maksud dari prosesi ini adalah sebagai symbol agar masyarakat bisa mengolah sawah dengan baik.
d)     Penyerahan pupuk oleh  sesepuh  Desa kepada perwakilan remaja putra dan putri. Maksud dari prosesi ini adalah symbol agar tanaman padi tetap subur dan mendapat hasil panen yang melimpah.
e)      Penyerahan Ruas Bambu Kuning, Daun Andong dan Kelararas Daun Pisang oleh Lebai perwakilan remaja putra dan putri. Maksud dari prosesi ini adalah symbol agar tanaman padi terhindar dari serangan hama.
5. Pemukulan GONG oleh Kuwu sebagai tanda dimulainya Pesta ngarot.

  • Perkembangan Upacara Adat Ngarot

Globalisasi memberikan dampak yang signifikan terhadap kebudayaan serta masuknya paham westernisasi dan modernisasi telah membuat masyarakat berpindah haluan dari agraris menjadi industri, hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat desa Lelea pada khususnya. Paham-paham tersebut telah merubah perspektif masyarakat secara luas bahwa sector industri jauh lebih baik di bandingkan sector pertanian sebagai mata pencaharian mereka sehingga minat masyarakat dan generasi muda sudah berkurang untuk mengolah pertanian karena alasan sector industri lebih praktis jika di bandingkan dengan sector pertanian. Tentu hal tersebut berdampak pada upacara adat ngarot yang notabene mengajak generasi muda untuk turut serta memajukan system pertanian. Saat ini generasi muda mulai enggan untuk mengikuti upacara adat ngarot, banyak putra-putri daerah Lelea yang sudah bekerja di luar kota, sehingga saat acara ini akan di mulai, putra-putri daerah tidak bisa hadir dengan alasan tertentu, jadi ada sedikit pergeseran para peserta dan nilai-nilai ngarot untuk masyarakat desa Lelea. Para peserta upacara ngarot kini di ramaikan oleh putra-putri yang usianya masih sangat muda, hal tersebut terjadi karena putra-putri yang sudah menginjak usia produktif terbentur oleh pekerjaan ataupun study mereka. Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara itupun sudah mulai memudar, saat ini sepertinya masyarakat desa Lelea mengadakan upacara adat Ngarot hanya sekedar untuk melestarikan kebudayaan yang ada sejak ratusan tahun yang lalu agar tidak punah.

Gunung Merbabu



Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan,Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara, Provinsi Jawa Tengah.
Gunung Merbabu dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, "merbabu" berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.
Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.
Gunung ini sangat cantik, dan banyak diminati oleh para pendaki untuk dikunjungi. 
Ada Hal yang harus kamu ketahui tentang gunung merbabu yaitu:

  1. Punya tiga puncak utama

Keindahan alam di sekitar Gunung Merbabu akan bisa kita nikmati secara maksimal saat di puncak. Tenang, Gunung Merbabu merupakan gunung berapi yang sudah tidak aktif sehingga pendakian sampai ke puncak gunung ini sangat aman. Jika cuaca sedang bagus, pemandangan di puncak Gunung Merbabu benar-benar akan terlihat aduhai. Gumpalan awan putihnya akan membentuk seperti gelombang pantai yang menawan
Gunung Merbabu sendiri mempunya tiga puncak utama yakni Puncak Trianggulasi, Puncak Kentengsongo serta Puncak Syarif. Masing-masing puncak memiliki pemandangan yang tidak jauh berbeda. Keren

2. Ada 3 jalur pendakian utama menuju puncak Merbabu

Pendakian ke puncak Gunung Merbabu bisa dilakukan melalui tiga jalur pendakian utama yakni Selo, Cunthel serta Wekas. Kita bisa mememilih ketiga jalur tersebut tergantung dari mana kita berasal
Jalur Wekas berada di wilayah Magelang, jalur Selo berada di wilayah Boyolali sedangkan Jalur Cunthel berada di wilayah Kopeng dekat Kota Salatiga. Dari masing-masing jalur, membutuhkan waktu rata-rata 6 s/d 8 untuk bisa sampai ke puncak Merbabu

3. Punya padang rumput yang menawan

sabana merbabu
Gunung Merbabu punya pemandangan padang rumput yang begitu spektakuler. Jika melakukan pendakian melalui jalur selo, kita akan melewati dua padang rumput yang ditumbuhi oleh bunga edelweis. Jika tidak sedang musim kemarau panjang seperti sekarang ini, pemandangan padang rumput tersebut akan terlihat sangat indah dan menyejukkan mata
Tepat dibawah puncak, kita akan melewati padang rumput yang dipenuhi oleh bunga edelweis. Meskipun tidak seluas Tegal Alun atau Alun-alun Surya Kencana, pemandangan bunga edelweis di Gunung Merbabu tetap istimewa

4. Bisa melihat gunung-gunung tertinggi di Jawa Tengah

puncak merbabu
Pemandangan dari puncak Gunung Merbabu bak lautan lepas. Awan-awan putih yang melayang-layang di udara adalah ombaknya. Rangkaian pegunungan yang bisa kita saksikan dari puncak akan terlihat seperti sebuah pulau
Dari puncak Gunung Merbabu kita bisa melihat beberapa gunung tertinggi di Jawa Tengah antara lain Triple S (Sindoro, Sumbing, Slamet) serta Gunung Lawu yang tampak seperti negeri cantik dalam cerita dongeng

5. Bertetangga dengan Gunung Merapi

merapi dari selo
Jika melakukan pendakian melalui jalur Selo, perjalanan kita menuju puncak Merbabu akan semakin menyenangkan karna akan ditemani oleh pemandangan Gunung Merapi yang terlihat begitu gagah dan kokoh. Pemandangan Gunung Merapi yang elegan akan mulai bisa kita lihat setelah keluar dari area hutan
Gunung Merbabu memang bertetangga dekat dengan Gunung Merapi. Jalur pendakian utama Gunung Merapi bahkan juga berada di kecamatan yang sama dengan salah satu jalur pendakian Merbabu yakni Selo

6. Punya pemandangan sunrise yang bikin speechless

sunrise merbabu
Salah satu hal yang paling dicari oleh para pendaki saat melakukan pendakian adalah pemandangan sunrise. Menikmati pemandangan matahari terbit dari ketinggian memang merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan dan bikin kangen
Di Gunung Merbabu kita juga akan disuguhi oleh pemandangan sunrise yang akan membuat kita tak mampu berkata apa-apa, saking kagumnya. Pemandangan sunrise di Merbabu tak cuma bisa kita nikmati di puncak saja tapi juga di Sabana 1 dan Sabana 2 (jalur Selo)

Sumber:
  • http://www.yukpiknik.com/artikel/7-hal-yang-harus-kamu-tahu-tentang-gunung-merbabu/


Kebudayaan Asing yang Sulit diTerima

Bab 1
Pendahuluan

A. LATAR BELAKANG MASALAH
         Saat ini bangsa Indonesia tengah berada didalam massa transisi. yaitu, dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Dengan itu nilai-nilai sosial budaya yang belum sesuai dengan nilai budaya bangsa Indonesia juga dapat ikut terserap. Nilai-nilai tersebut dapat berupa sifat pandangan, paham, dan juga gaya hidup, yaitu egois, materialisme, sekulerisme, ekstrimisme dll.
         Adanya unsur budaya asing yang masuk akibat globalisasi, sangat berpengaruh terhadap kebudayaan bangsa indonesia, pengaruh tersebut berjalan sangat cepat dan menyangkut berbagai bidang kehidupan. Tentu saja pengaruh tersebut akanmenghasilkan dampak yang sangat luas pada sistem kebudayaan masyarakat. Apabila masyarakat tidak mampu menahan berbagai pengaruh kebudayaan yang datang dari luar maka akana terjadi ketidak seimbangan dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan.
         Adanya unsur budaya asing yang masuk yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia mengkhawatirkan karena dapat menyebabkan terjadinya kegoncangan budaya dan juga bisa  budaya indonesia itu sendiri luntur.

B. RUMUSAN MASALAH
  1. Unsur-unsur budaya asing apa yang sulit diterima?
  2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu budaya asing?
  3. Apa itu globalisasi?
  4. Apa saja unsur globalisasi yang sulit diterima oleh masyarakat?
C. TUJUAN
  1. Untuk mengetahui Budaya Asing seperti apa yang sulit diterima oleh masyarakat
  2. Untuk mengetahui Unsur unsur globalisasi yang tidak dapat diterima oleh masyarakat
  3. Untuk mengetahui faktor-faltor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya kebudayaan asing

BAB II
Pembahasan
         Segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu. Di Indonesia banyak sekali kebudayaan dan kepribadian yang ada, karena seperti yang kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak sekali suku sehingga dengan sudah sangat pasti kebudayaannya pun berbeda.
         Adanya kemajuan teknologi dan komunikasi menyebabkan informasi yang datang dari luar pun dapat dengan mudah kita terima. Misalnya , lewat radio, televisi, dan lain-lain.
Teknologi memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila mungkin menguasai alam. Perkembangan teknologi di Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Jerman, dan Jepang merupakan contoh di mana masyarakat tidak lagi pasif menghadapi tantangan alam sekitar. Keadaan semacam ini disebut modernisasi yang akan berkembang terus sampai melahirkan Era Globalisasi.
        Adanya globalisasi menyebabkan unsur-unsur budaya asing akan mudah masuk ke Indonesia. Budaya yang datang dari luar tidak semuanya positif bagi perkembangan dan kehidupan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Tetapi unsur-unsur budaya asing yang masuk juga ada yang bersifat negatif.

  • Unsur-unsur kebudayaan asing yang sulit diterima adalah misalnya :

  1.  Unsur-unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain.
  2.  Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat.
  3. Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua, dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru.
  4.  Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi, selalu ada kelompok-kelompok individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi.

  • Berbagai faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru diantaranya :

  1. Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
  2. Jika pandangan hidup dan nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama. 
  3. Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru. Misalnya sistem otoriter akan sukar menerima unsur kebudayaan baru.
  4. Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
  5. Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas.

        
         Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas negara menjadi bias. Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya universal. Globalisasi sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
          Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.
  • Unsur globalisasi yang sulit diterima masyarakat:

  1. Teknologi yang rumit dan mahal.
  2. Unsur budaya luar yang bersifat ideologi dan religi.
  3. Unsur budaya yang sukar disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
  • Unsur globalisasi yang mudah diterima masyarakat:
  1. Unsur yang mudah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.
  2. Teknologi tepat guna, teknologi yang langsung dapat diterima oleh masyarakat.
  3. Pendidikan formal di sekolah.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
  Individu-individu manakah yang cepat menerima unsur-unsur yang baru. Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu yang cepat menerima unsure-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi.
       Sebaliknya generasi tua dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru. Hal itu disebabkan karena norma-norma yang tradisional sudah mendarah daging dan menjiwai sehingga sukar sekali untuk mengubah norma-norma yang sudah demikian meresapnya dalam jiwa generasi tua tsb. Sebaliknya belum menetapnya unsure-unsur / norma-norma tradisional dalam jiwa generasi muda , menyebabkan mereka lebih mudah menerima unsur-unsur baru yang kemungkinan besar dapat mengubah kehidupan mereka.
      Ketegangan-ketegangan apa yang timbul sebagai akibat akulturasi tsb. Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi selalu ada kelompok individu yang sukar sekali / bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Perubahan dianggap oleh golongan tsb sebagai keadaan krisis yang membahayakan keutuhan masyarakat. Apabila meraka merupakan golongan yang kuat maka mungkin proses perubahan dapat ditahannya, sebaliknya bila mereka berada dipihak yang lemah maka mereka hanya dapat menunjukan sikap yang tidak puas. Maka karna itu, generasi muda baiknya dapat menyaring, mana unsur-unsur kebudayaan asing yang dapat di ambil dan mana yang hanya kita ketahui tetapi tidak diterapkan di kebudayaan Indonesia.

B. SARAN
       Sebagai generasi muda seharusnya kita dapat memfilter mana yang positif dan negatif dan tetap menjunjung kebudayaan bangsa kita sendiri dan norma-norma yang sudah ada, agar kebudayaan kita tidak luntur dengan adanya kebudayaan asing yang muncul diIndonesia.

REFERENSI:
  • http://nitapriyani04.blogspot.co.id/2013/11/kebudayaan-asing-yang-mudah-diterima.html
  • http://endahdolls.blogspot.co.id/2011/05/kebudayaan-yang-mudah-diterima-dan.html